Asia Paling Parah Dalam Pencapaian Orgasme Tetapi Paling Senang Seks Komersial

ORGASME adalah salah satu faktor penting dalam menentukan kepuasan suatu hubungan seksual. Bila salah satu di antara pasangan gagal mencapai klimaks, kepuasan seksnya tentu akan berkurang.

Dikaitkan dengan keberhasilan mencapai orgasme, sebuah survei global mengungkapkan bahwa orang Italia dan Spanyol tenyata paling ahli dalam hal ini. Namun, rapor buruk ditunjukkan partisipan-partisipan di Asia yang mencatat kemampuan orgasme paling rendah.

Berdasarkan hasil survey global bertajuk “Durex Sexual Wellbeing”, Italia, Spanyol, dan Meksiko menempati posisi teratas dalam persentase mencapai klimaks pada setiap kali berhubungan intim. Para pasangan dari negara itu mengungguli partisipan dari 23 negara lainnya yang dilibatkan dalam survei ini, dengan persentase pencapaian orgasme 66 persen. Sementara itu, Perancis yang dikenal dengan musik dan konser romantisnya hanya mencapai 38 persen dalam survei yang diikuti 26.000 orang tersebut.

Kawasan Asia, diwakili Jepang, China, India, Indonesia, Malaysia dan Hongkong, kemampuan orgasme justru terbilang rendah. Para pasangan di Jepang hanya mencatat 27 persen, India 36 persen, Malaysia 30 persen dan China 36 persen dan Indonesia justru paling terpuruk dalam hal pencapaian klimaks. Mereka menempati posisi paling buncit dari total 26 negara yang dijadikan sasaran survei.

Menyoal pasangan yang berusaha mencapai klimaks, survei menunjukkan, orang Jepang tercatat paling tidak puas dengan intensitas orgasme, sedangkan orang Meksiko dan Brasil mengaku paling puas. Dalam poling itu juga terungkap, wanita tercatat jarang mencapai klimaks ketimbang pria. Hanya 32 persen wanita yang mengaku mencapai klimaks setiap kali berhubungan intim, sementara pria mencapai 63 persen.

Faktor-faktor yang meningkatkan kepuasan orgasme di antaranya menunda klimaks, foreplay yang lebih lama, serta hubungan emosional yang lebih kuat. Survei juga menemukan bahwa kebanyakan pria lebih suka orgasme bersama pasangannya, sedangkan wanita lebih mudah orgasme melalui masturbasi.

“Jika Anda ingin melakukan orgasme, penting artinya bagi Anda untuk menyerahkan segalanya pada perasaan positif yang pernah Anda alami, ” ungkap ahli kesehatan seksual, Kevan Wylie, dalam sebuah pernyataan.

Empat Buah Tips Untuk Memperlambat Orgasme Bagi Pria Agar Dapat Memuaskan Wanita

SETIAP pria atau wanita pasti menghendaki munculnya orgasme saat melakukan hubungan seksual. Karena kondisi ini merupakan puncak rasa dimana kenikmatan betul-betul membuat kita semua yang pernah melakukan ingin mengulanginya terus.

Tentu saja, tidak mudah untuk mencapai kondisi orgasme yang betul-betul rasanya nikmat luar biasa. Dalam hal ini foreplay sangat mempengaruhi. Namun di samping itu kebiasaan memperlambat orgasme bisa jadi merupakan strategi tersendiri supaya orgasme yang kita rasakan benar-benar nikmat tiada tara.

Berikut ini empat petunjuk bagaimana memperlambat orgasme menurut Joel. D. Block, PhD.:
1. Variasikan pola gerakan. Selang seling gerakan Anda saat melakukan penetrasi. Kadang cepat, kadang lambat. Bisa juga dengan mengubah posisi penis yang dimasukkan, kadang dalam, kadang hanya ujung saja yang masuk vagina. Bisa juga secara berkala, hentikan gerakan saat penetrasi selama beberapa detik. Rasailah nikmat yang luar biasa itu dalam-dalam.

2. Lakukan tekanan pada perineum. Perineum adalah daerah antara skrotum dan anus. Sebelum ejakulasi, gunakan tiga jari Anda untuk menekan daerah tersebut. Mintalah pasangan Anda melakukannya. Teknik ini sederhana dan sudah dipraktekkan selama lima ribu tahun di negeri China.

3. Kencangkan otot sekitar kemaluan. Saat penetrasi berlangsung, sekali-sekali tarik penis sehingga hanya ujungnya saja yang berada dalam vagina. Berhentilah sebentar, kemudian kencangkan otot sekitar kemaluan dan dubur selama beberapa detik. Lakukan langkah ini beberapa kali.

4. Mengubah-ubah rangsangan. Pada saat Anda sangat terangsang, usahakan agar tidak langsung menuruti hasrat tersebut. Tahan untuk tidak segera melakukan penetrasi. Lakukan gerakan lain yang kira-kira membuat Anda merasa benar-benar mengasyikan.

90 Persen Atau 9 Dari 10 Wanita Indonesia Pura Pura Orgasme Demi Ego Sang Pria

Dalam istilah seks, sering kita dengar kata fake orgasm atau berpura-pura mengalami orgasme, padahal sebenarnya tak merasakannya. Perilaku ini kerap ditunjukkan seseorang saat berhubungan intim dengan maksud menyenangkan atau menambah kepercayaan diri pasangannya.

Fakta membuktikan bahwa orgasme palsu banyak dilakukan kaum Hawa demi  menyenangkan pasangannya. Wanita terkadang harus berpura-pura mencapai orgasme, padahal sebenarnya mereka tidak mengalaminya atau bahkan tidak menikmati seks itu sendiri karena berbagai faktor, seperti disfungsi seksual, baik pada pria atau wanita.

Suatu penelitian menyatakan, orgasme palsu sering dilakukan karena 90 persen wanita  menilai kaum pria tak dapat membedakan orgasme yang palsu dan asli. Wanita juga terpaksa melakukan orgasme palsu supaya tak menyinggung atau mengecewakan pasangannya meski dalam hatinya mereka tidak puas.

Di mata psikolog yang mendalami permasalahan seksual, Zoya Dianaesthika Jusung MPsi, berpura-pura merasakan orgasme adalah tindakan yang sungguh merugikan, terutama bagi wanita. Dengan orgasme palsu, tujuan mencapai seks yang berkualitas dan memuaskan kedua belah pihak justru makin sulit tercapai.

“Wanita melakukan fake orgasm akan rugi sendiri. Berpura-pura orgasme artinya selain  menipu dirinya, dia juga telah menipu pasangannya. Banyak wanita yang merasa dengan tidak mengomunikasikan fake orgasm akan menambah kepercayaan diri pasangannya, padahal sebenarnya tidak,” ungkap konsultan seks dari Lembaga Penelitian Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, itu.

Kasus orgasme palsu di antaranya sering ditemukan pada wanita yang memiliki pasangan pengidap disfungsi ereksi (DE). Bukan rahasia lagi bila problem ereksi dapat menyebabkan wanita menjadi sulit terpuaskan sehingga untuk menghindari ketersinggungan saat beraksi di ranjang tak jarang wanita harus berpura-pura orgasme dan menyimpan rahasia ini dalam hatinya.

Zoya menyarankan, tindakan berpura-pura orgasme sebaiknya dihindari dan diganti dengan pendekatan yang lebih intim melalui komunikasi dan keterbukaan dengan pasangan. Dalam mengomunikasikan perihal seks, baik pria atau wanita sebaiknya menyampaikannya dengan cara asertif, tidak saling menyinggung atau menyakiti satu sama lain.

“Cara penyampaian yang tidak menyakiti ini sangat penting. Misalnya, jangan sampai (seorang wanita) bilang ‘Ah kamu jelek sekali atau lemah sekali sih’. Besok-besok, malah (si pria) akan makin lemah,” ujarnya.

Supaya sama-sama menemukan kenikmatan dalam seks, pasangan dapat saling membimbing ke arah yang diinginkan dan mengutarakan bagaimana sebaiknya hubungan seks dilakukan. “Misalnya mengatakan ok that’s right sebelah sini! That’s good, keep continue doing this, Itu akan membantu si  pria dan wanita untuk mendapatkan kepuasan,” tambahnya.

Ada baiknya pula, setia pasangan menggunakan masa afterplay atau sesaat setelah aktivitas seks untuk dijadikan kesempatan berkomunikasi. “Saat afterplay dimanfaatkan untuk saling terbuka mengenai pengalaman seksual yang baru terjadi. Dan bagi para wanita jangan merasa malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakan saat berhubungan dan apakah Anda mencapai orgasme atau tidak,” ujarnya.

Ia menegaskan, pada prinsipnya pria dan wanita memiliki hak yang sama dalam mendapat kepuasan dan kenikmatan saat berhubungan seks. Kenikmatan dan kepuasan,  lanjut Zoya, sebenarnya memiliki makna berbeda dalam konteks seks.

Kenikmatan atau pleasure biasanya lebih banyak berkaitan dengan hal-hal bersifat fisik dan genital, seperti rangsangan pada bagian tubuh atau titik tertentu, posisi dan trik berhubungan, dan sebagainya. “Sedangkan satisfaction itu banyak menyangkut efek psikologi atau kepuasan-kepuasan pada diri seorang individu. Yang artinya sesuatu yang melebihi kenikmatan,” tandasnya.

Ngeseks Tiap Hari Akan Membuat Anda Terlihat Makin Menggairahkan

INGIN tampil beda dan lebih seksi? Melakukan seks secara rutin bisa jadi salah satu solusinya. Sebuah penelitian menyebutkan, aktivitas seksual pada pria dan wanita terbukti mampu menaikkan level testosteron. Pada wanita, kenaikan testosteron semakin memudahkan mereka mengalami orgasme, meningkatkan rasa percaya diri, dan membuat mereka jadi semakin terlihat seksi.

Hormon testosteron merupakan hormon yang berperan penting dalam perkembangan dan pemeliharaan karakteristik maskulin pada laki-laki. Meski begitu, kaum hawa pun memiliki hormon laki-laki ini meski jumlahnya tak banyak.

Penelitian ini juga menemukan bahwa wanita dengan tubuh gemuk, pinggul besar maupun payudara besar lebih sulit dan sangat jarang mencapai orgasme karena postur dan bentuk tubuh yang demikian menandakan kurangnya hormon testosteron pada tubuh.

Namun pada wanita yang memiliki  bentuk tubuh seperti ini memiliki dorongan dan hasrat seksual yang sangat tinggi karena dorongan dan hasrat seksual dikendalikan oleh hormon esterogen yang terdapat secara melimpah dalam tubuh wanita yang berpayudara besar, pinggul besar dan gemuk. Penelitian ini membuktikan kalau istilah nafsu besar tenaga kurang tidak hanya berlaku dikalangan pria tetapi juga wanita dengan tipe tubuh seperti ini yang memiliki dorongan seksual yang tinggi namun kesulitan mencapai orgasme.

Selanjutnya penelitian membuktikan, tingkat hormon testosteron meninggi secara signifikan setelah seseorang, baik wanita maupun pria, berpelukan, bermesraan, ataupun bersenggama. Jadi pada riset ini, para responden diminta mengisi kuesioner setelah yang bersangkutan melakukan aktivitas seks; termasuk orgasme, tingkat hasrat seksual, dan perasaan yang mereka rasakan setelah bersenggama.

Studi mencatat tingkat testosteron pada responden sebelum dan sesudah berpelukan dan berhubungan seksual berbeda secara signifikan. Levelnya semakin naik. Semakin tinggi tingkat testosteron, orgasme pada wanita akan semakin baik, dan perasaan seksi semakin meningkat pada hari berikutnya.

Wanita juga umumnya merasa lebih seksi karena seks rutin membuat tubuhnya kencang dan bugar. Jangan lupa bahwa aktivitas seksual pada dasarnya hampir sama dengan olahraga. Energi yang dibuang bisa sebanyak 200 kalori per jam, setara dengan berlari selama 15 menit atau berenang sebanyak 10 menit. Denyut nadi bisa mencapai 70-150 per menit yang berarti masuk pada zona target latihan yang disarankan agar tujuan olahraga tercapai maksimal.

Kontraksi otot saat berhubungan intim juga bisa melatih bagian tulang pinggul, paha, bokong, lengan, leher, dan dada. Seks juga meningkatkan produksi testosteron untuk menguatkan tulang dan otot. Sebuah majalah perkawinan pernah memberi julukan ranjang sebagai alat fitnes yang hebat dan murah.

Usir sakit kepala

Di samping menjaga kebugaran lewat asupan makanan, seks teratur ternyata dapat membuat tubuh menjadi lebih fit. Badan pun menjadi bugar dan muka tampak berseri-seri. Yang dimaksud seks teratur adalah hubungan intim yang dijalankan secara rutin, seperti setiap 3 hari sekali atau seminggu sekali yang dilakukan tanpa paksaan alias suami dan istri sama-sama menginginkan.

Para peneliti di Universitas Queen di Belfast, Irlandia, juga yakin seks tak sekadar pemuas kebutuhan, tapi juga salah satu usaha untuk tetap hidup sehat. Beberapa keuntungan itu, setidaknya berhubungan seks sekali seminggu, mengurangi risiko terkena serangan jantung dan menjadi langsing. Selain itu juga mengurangi depresi dan rasa sakit kepala. Ini karena sebelum orgasme hormon oksitoksin akan meningkat 5 kali lebih tinggi dari biasanya. Hal ini membuat tubuh melepaskan hormon endorfin yang mengurangi rasa sakit di kepala. Seseorang yang melakukan seks sekali atau dua kali dalam seminggu akan meningkatkan antibodi yang biasa disebut imunoglobulin A hingga 30 persen. Antibodi ini akan memperkuat sistem imun tubuh Anda.

Jika suami/istri mulai bersikap dingin pada kegiatan seksual, lebih baik segera dicari penyebabnya. Bagi wanita, dingin terhadap seks bisa disebabkan berbagai hal, di antaranya:

* Rasa marah sering menyebabkan istri tak ingin bersentuhan dengan suaminya. Hal ini dilakukan semata untuk memperingatkan suami bahwa ia sedang marah padanya. Taktik untuk menghadapinya, cobalah cari tahu apa yang membuatnya marah. Ajaklah istri bicara dalam suasana relaks. Jika permasalahannya sudah mencair, istri tak akan keberatan kok bila diajak bercinta kembali. Malah, kalau suami bisa mengambil hati, istri bisa lebih “hot” dari biasanya.

* Kelelahan. Perannya sebagai ibu apalagi dia juga bekerja kerap membuat istri menjadi cepat lelah. Ada baiknya suami menawarkan bantuan untuk meringankan pekerjaan rumah. Biarkan istri beristirahat tanpa perlu melakukan pekerjaan rumah. Hal ini bisa membuatnya merasa dicintai dan dihargai. Sebagai imbalannya, istri pasti akan melakukan apa pun untuk suami. Termasuk ajakan bercinta.

* Merasa tak seksi. Tubuh bisa jadi hal yang paling sensitif bagi wanita. Lantaran itu, perasaan tak seksi kerap menjadi pengganjal hubungan intim. Ups, jangan-jangan Anda pernah nyeletuk tentang perubahan tubuhnya. Tampaknya sederhana, tapi bisa sangat sensitif lo! Berikan dorongan untuknya. Inilah waktunya bagi Anda menunjukkan perhatian. Beritahukan pada pasangan bahwa dengan tubuh seperti itu ia sudah cukup menarik. Lebih baik lagi Anda menggugahnya untuk sama-sama berolahraga.

Nah, bagi pria, ketidakpedulian terhadap seks dapat disebabkan:

* Banyak pikiran. Suami yang sedang banyak beban pikiran karena pekerjaan atau tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga sering menolak berhubungan intim. Bukan karena ia tak peduli kepada istri, tapi gairahnya hilang karena begitu banyak masalah bertumpuk di kepalanya.

* Jenuh. Salah satu alasan mengapa pria surut keinginan bercintanya karena ia mulai bosan pada aktivitas seks yang begitu-begitu saja. Pria senang dengan tantangan baru. Bila tak ada pembaruan dalam aktivitas seks, ia menganggap seks tak ubahnya hanya kegiatan intim yang membosankan. Sayangnya, mereka kerap enggan atau gengsi mengutarakan kepada istri karena takut ide-idenya ditolak. Istri dapat memberi solusi dengan berinisiatif menggunakan tempat atau posisi seks yang berbeda. Bulan madu kedua bisa jadi pilihan yang tepat. Melakukan foreplay yang variatif juga bisa menjadi pilihan.

70 Percent Women Fake Their Orgasm. How To Detect It

It has been estimated by various studies that 70% of women fake orgasms at some point in their sexual lives. Some fake orgasms very regularly — as in every time — while others only fake it some of the time. The psychology behind faking orgasms is simple: She isn’t going to have an orgasm this time, and she knows it. She can’t be bothered with a) you trying hard to satisfy her and prolonging the encounter, and b) you feeling bad because you couldn’t satisfy her come hell or high water. If you want to know if you are being duped, use the following signs that she really is having an orgasm to distinguish the faux from the bona fide, and catch her in the act.Retraction of the clitoral headThis occurs just before orgasm and provides you with a clitoris-sized hint. When the clit disappears, you’re on the right track, so don’t stop. This coveted disappearance of the clitoris isn’t only visible if you have the lights on and your face all up in it; it’s something you can feel as well. So, get yourselves into a position where you can easily rub her clitoris during sex, and use it to your advantage. Under the guise of giving her some extra special treatment, you can feel whether she’s actually close to climaxing or just faking.

Increased breathing and heart rate

Listen to the sound of her breathing in your ear: When it starts to get heavier, you’ll know you’re onto something. The change will occur reasonably swiftly when she is about to orgasm, and will be accompanied by a completely unconscious change in the tension, rhythm and pace of her other body movements. Liars and the truthful alike might clutch at you and moan and groan, but her breathing is the missing link. Her thumping heart will also be a sign that it’s for real; if she isn’t actually excited, her heart rate and bodily manner will be very ordinary.

Dilated pupils

Dilated pupils are another surefire sign that your girl is reaching her peak. This might be hard to tell in the dark, but if the lights are on, all you have to do is ask her to look into your eyes as she climaxes. Chances are she’ll be more than willing to oblige to that romantic request. Just make sure to make note of what her pupils looked like at the beginning of your romp so you can compare their difference in size at the end.

Red lips

This means both sets: Her mouth lips will go a little redder (lips swell and redden upon arousal), as will her vaginal lips. While you are penetrating one set of lips, try to feel the swelling in the other set of lips that you’re kissing. Be careful though: Kissing will also increase the redness of her lips, so be gentle with pecks so that you can get an accurate reading of her response level.

Vaginal muscle spasms

Muscle spasms are the biggest indicators of all because she cannot fake or hide this. During orgasm, she will have between 3 and 10 vaginal and cervical contractions, the first few being the strongest. They will grip your penis, and the tightening feeling you experience will be impossible to ignore.

Sudden perspiration

Hot, sweaty sex? Yes, please. Breaking out in a sweat means her body is at a high level of tension and her muscles are working overtime — her breathing, heart rate and blood pressure are all up. So, once you both collapse into a sweaty heap afterward, you’ll know she’s been pleased.

Other important signs

* She may arch her back and feet, have uncontrolled twitches in her limbs (during and after orgasm), and have uncontrolled facial expressions (aka her “orgasm face”).
* Check her cheeks and neck to see if they are flushed.
* Of particular importance is what she does immediately after sex: Does she leap right out of bed and get on with her day? Or does she go to the washroom and lock the door? The chemical effect of an orgasm on the body brings a dazed look to the eyes and she may just want to laze for a few minutes to enjoy it. If she is missing this post-coital bliss, be suspicious.
* Her nipples will also harden; it has been estimated that there is a 95% chance that if her nipples aren’t hard, she didn’t orgasm.
* Her clitoris gets very sensitive right after orgasm, so if she doesn’t slow down or stop completely after her orgasm, she is probably a faker.
* Making coherent sentences far too loudly is also a clue to her (dis)honesty; she shouldn’t really be able to say anything much other than “Oh my God!” if the job is getting done to standard. Anything remotely porn-like is highly suspicious (loud over-exaggerated moaning, etc.) because porn sex is not real sex.

Faker tests

If you want to know if she is faking it, try some experiments. Some easy ways to gauge her honesty is to do a thorough investigation. Whatever you do, don’t tell her what you’re doing. If she is faking, this gives her an unfair heads-up about your intentions.

Ask her

First off, be prepared for the truth. Then be prepared to do something about it if there is a problem. Have a frank and honest discussion with her about your sex life in a nonjudgmental way; she knows what she is doing and if she is a faker, she’s no doubt duly ashamed of herself. She probably won’t admit that she lied, but you can ignore that and just start working on how to give her some real orgasms. Don’t let her fool you anymore — do something constructive about it. It has been proven time and time again that partners who regularly communicate openly and honestly have the best sex. Don’t be the couple who loses out.

Lie detector

Ask her what the sex/stimulation feels like, and ask her to explain what happens to her body when she is having an orgasm. Use normal lie-detecting techniques (body language signals) to see if she is lying. Touching her mouth (covering her lies) and looking away as she speaks to you are some ways to tell. Obviously, these are not set in concrete, but if you ask her directly if she orgasms when you have sex and she looks away and says “Yes, of course, honey!” then further investigation is in order.

Ruin her orgasm

This may seem cruel, but if she is really having one, she will be unhappy with you if you burst her bubble. If she isn’t actually having one or about to have one, nothing will happen and there will be no harm done. It is probably the easiest way to tell; you know her body and her responses, so test her. Make it interactive, and you’ll start getting the responses you want.

Liar, liar…

The male ego is a fragile thing, so it is important in your investigations to put aside your ego and deal with the facts. If she has constant problems having an orgasm, she doesn’t need accusations; she probably just needs more quality foreplay.

The University of Chicago did a survey (“Sex in America,” 1994) which reported that less than one-third of females always orgasm during sex, compared to three-quarters of men. The survey also found these statistics changed quite significantly when a woman’s partner spent 21 minutes more on foreplay: 9/10 women always orgasmed with more foreplay. This stat says it all.

This situation can be difficult and embarrassing for you both, but it’s certainly not the end of the world — in fact, it’s probably just the beginning. Deal with it in a positive way, and you’ll both get positive results.